ArtikelArtikel Inspiratif

Sistem Pembelajaran Daring

Pembelajaran secara daring dianggap menjadi solusi kegiatan belajar mengajar tetap jalan di tengah pandemi corona. Meski telah disepakati, cara ini menuai kontroversi. Bagi tenaga pengajar, sistem pembelajaran daring hanya efektif untuk penugasan. Mereka menganggap untuk membuat siswa memahami materi, cara daring dinilai sulit.

Selain itu, kemampuan teknologi dan ekonomi setiap siswa berbeda-beda. Nggak semua siswa memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan belajar jarak jauh ini. Koneksi lemot, gawai yang nggak mumpuni, dan kuota internet yang mahal menjadi hambatan nyata.

Meskipun begitu, pembelajaran harus terus berlanjut. Setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing dalam menyikapi aturan ini. Beberapa sekolah merombak jadwal mata pelajaran yang akan diberikan kepada siswa setiap harinya. Mata pelajaran yang diberikan dalam satu hari hanya tiga jenis, ditambah dengan lembar kegiatan yang harus diselesaikan siswa setiap hari.

Beberapa sekolah memberikan kebijakan agar siswa nggak hanya belajar materi pelajaran. Tetapi juga mengasah life skill dengan membantu kegiatan di rumah.

Rosyida Qonita salah seorang guru di sekolah swasta MTs Ma’ahid Kudus mengaku jika kegiatan pembelajaran daring ini nggak seefektif kegiatan belajar mengajar konvensional. Menurutnya, beberapa materi harus dijelaskan secara langsung.

“Kalau efektivitas, beda jauh dengan KBM secara langsung, karena materi yang disampaikan belum tentu bisa dipahami semua siswa,” kata Qanita, “Ada keterbatasan untuk tanya jawab.” Qanita juga membeberkan kalau nggak semua siswa punya handphone sehingga mereka nggak tahu cara mengerjakan tugas.

Berdasarkan pengalamannya mengajar secara daring, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan. Hanya, karena tugas ini diberikan ketika siswa akan masuk, ada kemungkinan akan menumpuk.

Berbeda dengan Geby pengajar di SD Islam Anajah yang sudah menggunakan aplikasi zoom untuk mengajar. Interaksi dalam pembelajaran tetap terjadi seperti biasanya. Meskipun terbatas dengan waktu. Dia mengajar mulai pukul 07.30 sampai 10.00 WIB.

Sekolah tempat dia mengajar mewajibkan adanya interaksi aktif dalam pembelajaran. Setiap hari, dia dan pengajar lain diwajibkan melaporkan hasil pembelajaran beserta buktinya, yang berisi progress serta kendalanya. Akan tetapi, dia pesimistis target kurikulum pembelajaran bisa tercapai karena terbatasnya waktu.

“Target kurikulum nggak bisa tercapai dengan baik, mungkin nanti solusinya, ujian ditunda sampai corona hilang. Karena menurut saya nggak efektif banget kalau maksain ujian kenaikan kelas secara online,” kata Geby.

Keraguan ini juga dirasakan Rafika Nurlisma. Meski begitu, dia akan tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik. Apalagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah memudahkan sistem pembelajaran dan penilaian. Saat ini guru dapat menilai siswa menggunakan riwayat nilai siswa selama lima semester ke belakang.

Hanya, pengajar di SD Global Inbyra School Tegal ini mengaku jika terkadang mengalami kendala dengan koneksi internet saat mengajar.

“Selama ini saya ngajar lewat zoom. Saya tanya ke anak-anak, mereka sebenernya paham nggak? Katanya nggak begitu, karena nggak tatap muka secara langsung,” tutur Rafika via Whatsapp Rabu (1/4). Durasi mengajar yang pendek juga dirasa kurang. “Ya mereka jadi nangkep materi seadanya, sisanya mereka diberikan latihan soal lewat Google Classroom,” pungkasnya.

Sepertinya apa yang dirasakan para guru di atas juga dirasakan siswa. Fatiya kelas XI MA Ma’ahid Kudus mengaku nggak paham dengan model pembelajaran ini.

“Kan harusnya di kasih materi atau belajar online sedangkan cuma ngasih tugas tugas tugas,” kata Fatiya via whatsapp, Selasa (31/3).

Selain itu, dia menyayangkan banyak siswa yang mengerjakan sendiri tugas-tugasnya.

Dia berpendapat sistem ini membuat para siswa tambah nggak paham pada pelajaran. “Mumet,” tandasnya.

Senada dengan Fatiya, Maulana Lutvian, siswa kelas XI SMK Wisudha Karya Kudus.

Dia mengaku kurang paham dengan materi pembelajaran karena hanya disampaikan melalui video tanpa ada proses tanya jawab.

Proses belajar mengajar di sekolahnya terbilang ringkas.

“Kalau penjelasan materinya nanti di kasih video, dikirim lewat aplikasi Google Classroom,” ungkapnya, Minggu (5/4).

Dibanding sistem daring, Vian lebih menyukai belajar secara konvensional. “Kalau di sekolahan lebih jelas kalau dikasih penjelasan, kalau di rumah masih agak bingung,” katanya.

Hm, serba sulit ya, Millens. Tapi semoga mereka tetap semangat ya.

SUMBER BERITA : DI SINI

Tags
Show More

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 2 =

Back to top button
Close
Close